Senin, 02 Oktober 2017

Filosofi Rumah Adat Tongkonan Tana Toraja dari Sulawesi Selatan

Rumah Adat Tongkonan / Indonesia memiliki beragam budaya yang sangat menarik. Beberapa diantaranya menjadi destinasi wisata bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu objek wisata yang terkenal dari bumi pertiwi ialah wisata budayanya, dimana tujuan wisata budaya bagi para wisatawan  (mancanegara) yang terkadang muncul kepermukaan media internasional sehingga menjadi yang paling terkenal yaitu budaya susila Sulawesi Selatan, khususnya budaya Tana Toraja.

Rumah Adat Tongkonan Tana Toraja

Tana Toraja memiliki banyak tujuan wisata yang sangat menarik bagi para pelancong. Bukan hanya sebab letak daerahnya yang jauh dari keramaian sehingga terasa damai dan menenangkan, Tana Toraja juga mampu menjadi ikon wisata Sulawesi Selatan sebab wisata budaya dan peninggalan arsitektur nenek moyang mereka yang berupa rumah susila Tongkonan.

Rumah Adat Tongkonan

Rumah susila Tongkonan ialah rumah susila Sulawesi Selatan yang mempunyai bentuk unik mirip wujud perahu dari kerajaan Cina pada jaman dahulu. Rumah susila tongkonan juga kerap kali disebut-sebut seolah-olah dengan rumah gadang dari tempat Sumatera Barat.
Rumah Adat Betawi dan Penjelasannya Lengkap
Filosofi 3 Pakaian Adat Betawi, Pernikahan Salah Satunya
Filosofi 5 Rumah Adat Sumatera Utara (Batak) + Gambarnya
Tongkonan berasal dari kata “tongkon” yang berarti duduk. Rumah tongkonan sendiri difungsikan sebagai sentra pemerintahan (to ma’ parenta), kekuasaan, dan strata sosial pada elemen masyarakat toraja. Rumah susila Tongkonan tidak mampu dimiliki secara pribadi/perorangan sebab rumah ini ialah warisan nenek moyang dari setiap anggota keluarga atau keturunan mereka.

Fungsi Tongkonan

Rumah Tongkonan bukan hanya sekedar berfungsi sebagai rumah adat. Dalam budaya mereka, masyarakat toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) ialah bapaknya. Deretan tongkonan dan alang pun saling berhadapan sebab dianggap sebagai pasangan suami istri. Alang menghadap ke selatan, sedangkan tongkonan menghadap ke utara.


Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Perlu diketahui bahwa arsitektur rumah susila Tongkonan selalu mengikuti model desa dimana rumah tongkonan tersebut dibangun. Akan tetapi, arsitektur tersebut tidak akan pernah lepas dari filosofi dan pakem-pakem tertentu yang diturunkan secara turun temurun. Filosofi dan pakem-pakem tersebut antara lain:

Rumah Adat Tongkonan

1. Lapisan dan Bentuk

Rumah tongkonan memiliki 3 lapisan berbentuk segi empat yang bermakna empat peristiwa hidup pada insan yaitu, kelahiran, kehidupan, pemujaan dan kematian. Segi empat ini juga merupakan simbol dari empat penjuru mata angin. Setiap rumah tongkonan harus menghadap ke utara untuk melambangkan awal kehidupan, sedangkan pada adegan belakang yaitu selatan melambangkan simpulan dari kehidupan.

2. Struktur Bangunan Rumah Adat Tongkonan

Struktur bangunan mengikuti struktur makro-kosmos yang memiliki tiga lapisan banua(rumah) yakni adegan atas (rattiangbanua), adegan tengah (kale banua) dan bawah (sulluk banua).

Bagian atas (rattiangbanua) digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka yang mempunyai nilai sakral dan benda-benda yang dianggap berharga. Pada adegan atap rumah terbuat dari susunan bambu-bambu pilihan  yang telah dibentuk sedemikian rupa kemudian disusun dan diikat oleh rotan dan ijuk. Atap bambu ini dapat bertahan sampai ratusan tahun.

Bagian tengah (kale banua) rumah tongkonan memiliki 3 adegan dengan fungsi yang berbeda. Pertama, Tengalok di adegan utara difungsikan sebagai ruang untuk bawah umur tidur dan ruang tamu. Namun terkadang, ruangan ini digunakan untuk menaruh sesaji. Kedua, Sali dibagian tengah. Ruangan ini biasa difungsikan sebagai tempat pertemuan keluarga, ruang makan, dapur dan tempat disemayamkannya orang mati. Dan ruangan terakhir ialah ruang sambung yang banyak digunakan oleh kepala keluarga .

Bagian bawah (sulluk banua) digunakan sebagai tempat hewan peliharaan dan tempat menaruh alat-alat pertanian. Fondasinya terbuat dari watu pilihan yang dipahat berbentuk persegi.

3. Ukiran Dinding

Ukiran berwarna pada dinding rumah tongkonan terbuat dari tanah liat. Ukiran-ukiran tersebut selalu menggunakan 4 warna dasar yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Bagi masyarakat toraja, 4 warna itu memiliki arti dan makna tersendiri. Warna kuning melambangkan anugrah dan kekuasaan Allah (Puang Matua), warna hitam melambangkan kematian/duka, warna putih melambangkan tulang yang berarti kesucian dan warna merah melambangkan kehidupan manusia.

4. Tanduk Kerbau

Rumah susila Tongkonan umumnya dilengkapi dengan hiasan tanduk kerbau. Hiasan ini tersusun menjulang pada tiang adegan depan. Hiasan tanduk kerbau tersebut secara filosofi ialah perlambang kemewahan dan strata sosial. Semakin banyak tanduk yang tersusun pada rumah ada tongkonan, maka semakin tinggi strata sosial kelompok susila yang memilikinya.

Nah, itulah sekilas pemaparan mengenai filosofi rumah susila Tongkonan yang menjadi rumah susila khas dari Sulawesi Selatan. Adakah di antara Anda yang berniat mengunjungi Tana Toraja? Sempatkanlah untuk menikmati keindahan arsitektur rumah susila di Indonesia yang satu ini. Semoga bermanfaat.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar