Tampilkan postingan dengan label Kerajaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Oktober 2017

6 Peninggalan Kerajaan Aceh, Keterangan, dan Gambarnya Lengkap

Kerajaan Aceh yaitu sebuah kerajaan Islam yang berdiri pada sekitar simpulan kurun ke 14 Masehi di wilayah yang secara administratif kini masuk dalam  Provinsi Aceh. Kerajaan yang sultan pertamanya berjulukan Sultan Ali Muhayat Syah ini memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada masa silam. Bukti pentingnya peranan kerajaan Aceh tersebut membekas pada beberapa peninggalan Kerajaan Aceh menyerupai yang akan kita bahas pada artikel berikut ini.

Peninggalan Kerajaan Aceh

Berikut ini yaitu beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang menjadi bukti bahwa kerajaan tersebut pernah ada dan memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia.

Peninggalan Kerajaan Aceh

1. Masjid Raya Baiturrahman

Peninggalan Kerajaan Aceh yang pertama dan yang paling dikenal yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini berada di sentra Kota Banda Aceh. Saat aksi militer Belanda II, masjid ini sempat dibakar. Namun pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak berperang merebut syahid.

Saat bencana Tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia satu ini menjadi pelindung bagi sebagian masyarakat Aceh. Kekokohan bangunannya tak bisa digentarkan oleh sapuan ombak laut yang kala itu meluluhlantahkan kota Banda Aceh.


2. Benteng Indrapatra

Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya yaitu Benteng Indrapatra. Benteng ini merupakan benteng pertahanan yang sebenarnya sudah mulai dibangun semenjak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya semenjak kurun ke 7 Masehi. Benteng yang kini terletak di Desa Ladong, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar ini pada masanya dulu memiliki peranan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis.

Peninggalan Kerajaan Aceh
Sekarang, kita hanya dapat menemukan 2 benteng yang masih kokoh berdiri. Benteng tersebut berukuran 70 meter x 70 meter dengan tinggi 4 meter dan tebal sekitar 2 meter. Selain menjadi peninggalan bersejarah, benteng Indrapatra kini juga dikenal sebagai objek wisata unggulan Kab. Aceh Besar. Gaya arsitekrur serta keunikan konstruksinya yang hanya terbuat dari susunan kerikil gunung ini membuat banyak orang penasaran dan tertarik untuk mengunjunginya.

3. Gunongan

Gunongan yaitu peninggalan Kerajaan Aceh yang berupa sebuah taman lengkap dengan bangunan keratonnya. Taman ini berdasarkan sejarahnya merupakan bukti cinta Sultan Aceh pada permaisurinya yang sangat cantik. Permaisuri yang tak diketahui namanya ini merupakan putri raja Kerajaan Pahang yang ditawan alasannya yaitu kerajaannya kalah perang. Sang Sultan jatuh cinta dan mempersuntingnya, hingga kemudian si permaisuri tersebut meminta dibuatkan sebuah taman yang sama persis dengan istana kerajaannya yang terdahulu untuk mengobati rasa rindunya.

Peninggalan Kerajaan Aceh
Gunongan ketika ini terletak tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Tepatnya berada di Desa Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Jika berkunjung ke Banda Aceh, jangan lupa sempatkan diri Anda singgah di taman asmara ini.

4. Makam Sultan Iskandar Muda

Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya yaitu Makam dari Raja Kerajaan Aceh yang paling ternama, Sultan Iskandar Muda. Makam yang terletak di Kelurahan Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini sangat kental dengan nuansa Islami. Ukiran dan pahatan kaligrafi pada kerikil nisannya sangat cantik dan menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Peninggalan Kerajaan Aceh

5. Meriam Kerajaan Aceh

Kesultanan Aceh telah bisa membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan eksistensi meriam-meriam bau tanah yang kini berjajar di benteng Indraparta dan musium Aceh. Awalnya meriam-meriam tersebut dianggap berasal dari pembelian ke Kerajaan Turki, namun setelah diteliti ulang, ternyata bukan. Teknisi-teknisi kerajaan Aceh-lah yang membuatnya berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani. Peranan meriam-meriam ini sangat penting dalam perlawan dan perang terhadap para penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak menyandar ke dermaga tanah rencong.

Peninggalan Kerajaan Aceh

6. Uang Emas Kerajaan Aceh

Aceh berada di jalur perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis. Berbagai komoditas yang berasal dari penjuru Asia berkumpul di sana pada masa itu. Hal ini membuat kerajaan Aceh tertarik untuk membuat mata uangnya sendiri. Uang logam yang terbuat dari 70% emas murni kemudian dicetak lengkap dengan nama-nama raja yang memerintah Aceh. Koin ini masih sering ditemukan dan menjadi harta karun yang sangat diburu oleh sebagian orang. Koin ini juga bisa dianggap sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang sempat berjaya pada masanya.

Peninggalan Kerajaan Aceh
Nah, para pembaca, demikianlah sekilas pembahasan kami mengenai 6 peninggalan Kerajaan Aceh lengkap dengan penjelasan dan gambar-gambarnya. Jika ada yang perlu disampaikan silakan berkomentar melalui kolom di bawah ini. Terimakasih.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

15 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, Candi dan Prasasti beserta Gambarnya

Kerajaan Mataram Kuno ialah sebuah kerajaan Hindu Budha yang berdiri pada periode ke 8 Masehi di daerah sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan yang kemudian runtuh di periode ke 11 Masehi ini telah meninggalkan aneka macam bangunan sejarah yang masih dapat kita temukan hingga ketika ini. Apa saja ya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno tersebut? Untuk mengetahuinya, marilah simak ulasan kami berikut ini.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno 

Secara umum, Kerajaan Mataram Kuno telah meninggalkan beberapa candi dan prasasti yang ditemukan tersebar di daerah sekitar Jawa Tengah. Salah satu candi yang terkenal misalnya Candi Borobudur. Nah, berikut ialah beberapa candi tersebut beserta gambar dan keterangan singkatnya untuk kita pelajari bersama.

1. Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Nama Candi Gambar Candi
1. Candi Sewu
Terletak di tempat sekitar candi Prambanan, tepatnya di Desa Bugisan, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah. Candi Sewu ialah candi Budha terbesar kedua setelah Borobudur.
Candi Sewu
2. Candi Arjuna
Terletak di kompleks Percandian Arjuna, tepatnya di Dataran Tinggi Dieng, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Hindu satu ini seolah-olah dengan candi-candi di kompleks Gedong Sanga.
Candi Arjuna
3. Candi Bima
Terletak di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi ini dikatakan memiliki banyak keunikan, misalnya dalam hal arsitekturnya yang seolah-olah dengan candi-candi yang ada di India.
Candi Bima
4. Candi Borobudur
Candi peninggalan Kerajaan Mataram Lama yang satu ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai candi Budha terbesar yang pernah ada. Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah dan diperkirakan berasal dari ke 8 Masehi.
Candi Borobudur
5. Candi Mendut
Candi Mendut merupakan candi peninggalan Agama Budha yang diperkirakan dibangun semenjak Mataram berada di bawah kepemimpinan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.
Candi Mendut
6. Candi Pawon
Jika Borobudur, Mendut, dan Pawon dilihat dari atas, ketiganya terletak di satu garis lurus. Inilah yang membuat para jago merasa keheranan. Candi pawon masih belum diketahui secara terperinci asal-usulnya alasannya bukti sejarah yang ditemukan masih sangat terbatas.
Candi Pawon
7. Candi Puntadewa
Candi yang terletak di kompleks candi Arjuna ini juga merupakan candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Candi bercorak Hindu ini mempunyai ukuran kecil tapi terlihat tinggi.
Candi Puntadewa
8. Candi Semar
Candi Semar terletak berhadapan eksklusif dengan Candi Arjuna. Bentuknya segiempat membujur arah Utara – Selatan dengan tangga masuknya berada di sisi Timur dan Barat.
Candi Semar

2. Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Nama Prasasti Gambar Prasasti
1. Prasasti Sojomerto ( sekitar Abad ke 7)
Prasasti berbahasa Melayu Kuno yang ditemukan di desa Sojomerto, Kabupaten Pekalongan ini menjelaskan bahwa Syailendra ialah penganut agama Budha.
Prasasti Sojomerto
2. Prasasti Kalasan (778 M)
Prasasti ini berisi ihwal kabar seorang raja Dinasti Syailendra yang membujuk Rakai Panangkaran biar mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara dan sebuah vihara bagi para pendeta Budha.
Prasasti Kalasan
3. Prasasti Klurak (782 M)
Prasasti yang ditemukan di daerah Prambanan ini berisi ihwal info pembuatan arca Manjusri sebagai wujud Sang Budha, Wisnu, dan Sanggha. Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini juga menyebut nama Raja Indra sebagai raja yang berkuasa pada ketika itu.
Prasasti Klurak
4. Prasasti Ratu Boko (856 M)
Prasasti ini berisi info kekalahan Balaputra Dewa dalam perang melawan kakaknya Rakai Pikatan atau Pramodhawardani dalam perebutan kekuasaan.
Prasasti Ratu Boko
5. Prasasti Nalanda (860 M)
Prasasti ini berisi ihwal asal-usul Balaputra Dewa yang ialah cucu dari Raja Indra dan putra dari Raja Samarottungga.
Prasasti Nalanda
6. Prasasti Cangal (732 M)
Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal. Isinya berupa peringatan pembuatan lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.
Prasasti Cangal
7. Prasasti Mantyasih (907 M) dan 8. Prasasti Wanua Tengah III (908 M)
Kedua prasasti ini berisi ihwal daftar raja-raja yang pernah memerintah di Dinasti Sanjaya.
Tidak Ada Gambar
Nah, demikianlah sekilas pemaparan mengenai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno beserta keterangan dan gambarnya lengkap. Semoga dapat dimanfaatkan dengan baik dan dapat menambah wawasan bagi kita semua.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

8 Peninggalan Kerajaan Demak beserta Penjelasan dan Gambarnya

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang memegang peranan penting dalam upaya penyebaran pedoman Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Kerajaan ini sebelumnya merupakan sebuah kadipaten kecil dari kerajaan Majapahit. Seiring runtuhnya pengaruh Majapahit dalam kancah Nusantara serta mulai tumbuhnya Islam di tanah Jawa, Demak pun menjelma sebuah kerajaan Islam terbesar yang pernah. Berikut, pada artikel kali ini kami akan membahas ihwal apa saja peninggalan Kerajaan Demak yang sampai kini masih terpelihara sebagai bukti eksistensinya di masa silam. Silakan disimak!

Peninggalan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1475. Bukti sejarah yang mengabarkan ihwal keberadaan kerajaan ini di masa lalu sudah cukup banyak didapatkan. Adapun beberapa bukti lain yang berupa peninggalan bersejarah mirip bangunan atau benda-benda tertentu juga  masih terpelihara sampai sekarang. Beberapa bangunan atau benda peninggalan kerajaan Demak tersebut misalnya Masjid Agung Demak, Soko Guru, Pintu Bledeg, Bedug dan Kentongan, situs Kolam Wudlu, serta maksurah yang berupa pahatan atau gesekan indah.

Peninggalan Kerajaan Demak

1. Masjid Agung Demak

Peninggalan Kerajaan Demak yang paling dikenal tentu ialah Masjid Agung Demak. Bangunan yang didirikan oleh Walisongo pada tahun 1479 ini masih berdiri kokoh sampai ketika ini meski sudah mengalami beberapa renovasi. Bangunan ini juga menjadi salah satu bukti bahwa kerajaan Demak pada masa silam telah menjadi sentra pengajaran dan penyebaran Islam di Jawa. Jika Anda tertarik untuk melihat keunikan arsitektur dan nilai-nilai filosofisnya , datanglah ke masjid ini. Letaknya berada di Desa Kauman, Demak - Jawa Tengah.

2. Pintu Bledek

Dalam bahasa Indonesia, Bledek berarti petir, oleh alasannya ialah itu, pintu bledek mampu diartikan sebagai pintu petir. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo pada tahun 1466 dan menjadi pintu utama dari Masjid Agung Demak. Berdasarkan dongeng yang beredar, pintu ini dinamai pintu bledek tak lain alasannya ialah Ki Ageng Selo memang membuatnya dari petir yang menyambar.

Saat ini, pintu bledek sudah tak lagi digunakan sebagai pintu masjid. Pintu bledek dimuseumkan alasannya ialah sudah mulai lapuk dan tua. Ia menjadi koleksi peninggalan Kerajaan Demak dan kini disimpan di dalam Masjid Agung Demak.

Peninggalan Kerajaan Demak beserta Penjelasan

3. Soko Tatal dan Soko Guru

Soko Guru ialah tiang berdiameter mencapai 1 meter yang berfungsi sebagai penyangga tegak kokohnya bangunan Masjid Demak. Ada 4 buah soko guru yang digunakan masjid ini, dan berdasarkan dongeng semua soko guru tersebut dibuat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Sang Sunan mendapat peran untuk membuat semua tiang tersebut sendiri, hanya saja ketika ia gres membuat 3 buah tiang setelah masjid siap berdiri. Sunan Kalijaga dengan sangat terpaksa kemudian menyambungkan semua tatal atau potongan-potongan kayu sisa pembuatan 3 soko guru dengan kekuatan spiritualnya dan mengubahnya menjadi soko tatal alias soko guru yang terbuat dari tatal.

Peninggalan Kerajaan Demak beserta Penjelasan dan Gambarnya

4. Bedug dan Kentongan

Bedug dan kentongan yang terdapat di Masjid Agung Demak juga merupakan peninggalan Kerajaan Demak yang bersejarah dan tak boleh dilupakan. Kedua alat ini digunakan pada masa silam sebagai alat untuk memanggil masyarakat sekitar mesjid biar segera datang melakukan sholat 5 waktu setelah adzan dikumandangkan. Kentongan berbentuk ibarat tapal kuda memiliki filosofi bahwa jikalau kentongan tersebut dipukul, maka warga sekitar harus segera datang untuk melakukan sholat 5 waktu secepat orang naik kuda.

5. Situs Kolam Wudlu

Situs bak wudlu dibuat seiring berdirinya bangunan Masjid Demak. Situs ini dahulunya digunakan sebagai kawasan berwudlu para santri atau musyafir yang berkunjung ke Masjid untuk melakukan sholat. Namun, ketika ini situs tersebut sudah tidak digunakan lagi untuk berwudlu dan hanya boleh dilihat sebagai benda peninggalan sejarah.

Peninggalan Kerajaan Demak beserta Penjelasan dan Gambarnya

6. Maksurah

Maksurah ialah dinding berukir kaligrafi goresan pena Arab yang menghiasi bangunan Masjid Demak. Maksurah tersebut dibuat sekitar tahun 1866 Masehi, tepatnya pada ketika Aryo Purbaningrat menjabat sebagai Adipati Demak. Adapun goresan pena dalam kaligrafi tersebut bermakna ihwal ke-Esa-an Alloh.

7. Dampar Kencana

Dampar kencana ialah singgasana para Sultan yang kemudian dialih fungsikan sebagai mimbar khutbah di Masjid Agung Demak. Peninggalan Kerajaan Demak yang satu ini sampai kini masih terawat rapi di dalam kawasan penyimpanannya di Masjid Demak.

8. Piring Campa

Piring Camapa ialah piring bantuan seorang putri dari Campa yang tak lain ialah ibu dari Raden Patah. Piring ini jumlahnya ada 65 buah. Sebagian dipasang sebagai hiasan di dinding masjid, sedangkan sebagian lain dipasang di kawasan imam.

Nah, demikianlah 6 peninggalan Kerajaan Demak beserta penjelasan dan gambarnya lengkap. Semoga cukup lengkap dan dapat memiliki kegunaan untuk memperkaya wawasan sejarah pembaca sekalian. Terimakasih.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Peninggalan Kerajaan Singasari, 5 Candi, 1 Arca, dan 4 Prasasti + Gambar

Kerajaan Singosari ialah salah satu kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang sempat terekam dalam sejarah budaya bangsa kita. Kerajaan yang didirikan pada tahun 1222 M ini diperkirakan terletak di sebelah Timur Gunung Kawi, Malang – Jawa Timur. Beragam bukti dan peninggalan sejarah berdirinya kerajaan ini sebagian telah ditemukan, di antaranya ada yang berupa candi, prasasti, dan ada pula yang berupa arca atau patung. Nah, pada kesempatan kali ini, Blog akan membahas seputar beberapa peninggalan Kerajaan Singasari tersebut lengkap dengan penjelasan dan gambar-gambarnya. Silakan disimak!

Peninggalan Kerajaan Singasari

Candi Singosari

1. Candi Singosari

Peninggalan Kerajaan Singosari  yang pertama ialah sebuah candi yang terletak di Kec, Singosari, Malang – Jawa Timur, tepatnya berada di lembah antara Gunung Arjuna dan Gunung Tengger. Candi yang dinamai Candi Singosari ini berdasarkan goresan pena dalam Prasasti Gadjah Mada (1351 M) yang terdapat di halaman kompeksnya disebut merupakan daerah pendarmaan raja-raja Kerajaan Singosari.

2. Candi Jago

Candi Jago ialah sebuah candi peninggalan Kerajaan Singosari yang terletak di Kec. Tumpang, Malang – Jawa Timur. Candi yang terbuat dari watu andesit yang disusun ibarat teras punden berundak-undak ini dikenal punya keunikan. Keunikan tersebut terletak pada adegan atas candi yang terpenggal dan hanya tersisa sebagian saja. Berdasarkan mitos yang berkembang, terpenggalnya atap candi ini disebabkan karena sambaran petir.

Berdasarkan pendapat para ahli, candi Jago didirikan pada masa pemerintahan Kertanegara. Candi ini didirikan sebagai bentuk perhormatan pada raja Wisnuwardhana (ayah Kertanegara) yang meninggal di tahun 1268.

Candi Jago

3. Candi Sumberawan

Candi Sumberawan ialah sebuah candi berbentuk stupa yang terletak di Desa Toyomarto, Kec. Singosari, Malang – Jawa Timur (berada 5 km dari Candi Singosari). Pada masanya dulu, candi ini sering digunakan umat Budha sebagai daerah ibadah. Dibangun pada sekitar masa ke 14 M, candi peninggalan Singosari ini berada di akrab sebuah telaga basah bening. Pemandangan sekitarnya yang mengagumkan membuat candi ini menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Malang.

Candi Sumberawan

4. Candi Jawi

Candi peninggalan Kerajaan Singosari  selanjutnya terletak di Desa Candi Wates, Kec. Prigen, Pasuruan - Jawa Timur. Candi yang berada sempurna di kaki Gunung Welirang ini pada masa silam dikenal sebagai daerah penyimpanan bubuk mendiang raja Singosari  terakhir, Prabu Kertanegara. Beberapa relief pahatan juga ditemukan di dinding candi ini, hanya saja sebagian dari relief tersebut tak mampu lagi terbaca karena sudah lapuk tergoda usia.

Candi Jawi

5. Candi Kidal

Candi Kidal ialah candi peninggalan kerajaan Singosari  yang terletak di Desa Rejokidal, Kec. Tumpang, Malang – Jawa Timur. Candi yang diperkirakan dibangun pada pertengahan masa ke 13 M ini merupakan wujud penghormatan untuk jasa besar Anusapati yang telah memerintah selama 20 tahun lamanya (1227 - 1248).

Candi Kidal

6. Arca Dwarapala

Arca Drawapala ialah sebuah patung monster besar yang pada masa silam berfungsi sebagai menandakan masuk atau patung selamat datang dikala hendak memasuki wilayah Kotaraja. Akan tetapi, letak wilayah Kotaraja sampai dikala ini masih belum diketahui secara pasti.


Arca Dwarapala

7. Prasasti Mula Malurung

Prasasti Mula Malurung ialah sebuah prasasti yang berupa lempengan-lempengan tembaga peninggalan Kerajaan Kediri, tepatnya dari masa pemerintahan Kertanegara tahun 1255. Prasasti ini terdiri dari 10 lempeng yang masing-masing menjelaskan perihal yang berbeda. Untuk lebih jelasnya mengenai isi dari prasasti Malurung ini, Anda dapat berkunjung ke Wikipedia.

Prasasti Manjusri

8. Prasasti Manjusri

Prasasti Manjusri ialah sebuah manuskrip kuno yang dipahat pada adegan belakang Arca Manjusri. Prasasti yang bertarikh 1343 ini pada mulanya ditemukan di sekitar reruntuhan Candi Jago, namun kini ia dipindahkan ke Museum Nasional, Jakarta.  Prasasti Manjusri menjelaskan perihal penghormatan pada keluarga kerajaan dengan isi teks sebagai berikut:
Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Ibu Yang Mulia Rajapatni maka Adityawarman itu, yang berasal dari keluarganya, yang bakir murni dan bertindak selaku menteri wreddaraja, telah mendirikan di pulau Jawa, di dalam Jinalayapura, sebuah candi yang ajaib- dengan impian biar dapat membimbing ibunya, ayahnya dan sahabatnya ke kenikmatan Nirwana.

9. Prasasti Singosari

Prasasti Singosari merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Singosari  yang ditemukan di Desa Singosari, Malang – Jawa Timur. Bertarikh tahun 1351 M, prasasti yang ditulis dalam Aksara Jawa ini sekarang disimpan di Museum Gajah. Maksud dari pembuatan prasasti ini diduga sebagai peringatan pembangunan sebuah candi pemakaman (caitya).

10. Prasasti Wurare

Prasasti Wurare merupakan prasasti yang dibuat untuk memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah daerah berjulukan Wurare. Manuskrip pada prasasti bertarikh 1289 M ini dipahatkan pada sebuah arca yang melambangkan penghormatan Raja Kertanegara. 

Demikianlah pemaparan mengenai beberapa peninggalan Kerajaan Singosari  mulai dari yang berbentuk candi, prasasti, sampai arca. Semoga dengan dilengkapi gambar-gambarnya, Anda semakin mudah memahami artikel ini.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

8 Peninggalan Kerajaan Cirebon, Sejarah dan Gambarnya Lengkap

Kesultanan Cirebon ialah salah satu kesultanan Islam yang berdiri semenjak kala ke 15 M di Jawa Barat. Kesultanan Cirebon ialah pangkalan penting bagi jalur perdagangan, pelayaran, dan penyebaran Islam di Jawa selain Demak. Kesultanan ini pada masa silam sempat mengalami masa kejayaan di masa kepemimpinan Fatahillah sebelum alhasil terpecah pada tahun 1677. Nah, pada artikel berikut, kita akan membahas beberapa peninggalan Kerajaan Cirebon tersebut untuk mengenali sejarah kesultanan ini di masa silam.

1. Peninggalan Berupa Keraton

Peninggalan Kerajaan Cirebon Keraton

Kesultanan Cirebon meninggalkan beberapa keraton yang antara lain keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Kanomanan, dan Keraton Kacirebonan.
  1. Keraton Kasepuhan Cirebon kini terletak di Kec. Lemah Wungkuk, Kotamadya Cirebon. Ia merupakan sentra pemerintahan dari kesultanan Cirebon pada masa silam. Di keraton ini akan dapat kita jumpai bangunan-bangunan dengan gaya arsitekturnya yang unik, kereta Singa Barong, benda-benda kuno dan naskah kuno.
  2. Keraton Kanoman ialah keraton yang didirikan oleh Sultan Anom I pada tahun 1678. Letaknya berada di 300 meter sebelah utara keraton Kasepuhan. Keraton ini telah berdiri semenjak wafatnya Panembahan Girilaya.
  3. Keraton Kacirebonan ialah keraton terkecil yang dimiliki kesultanan Cirebon. Letaknya berada di 1 km barat daya Keraton Kasepuhan. Di dalamnya juga terdapat banyak sekali benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Cirebon ibarat keris, wayang, gamelan, dan perlengkapan perang.


2. Peninggalan Berupa Masjid

Selain mewarisi peninggalan sejarah berupa keraton, Kerajaan Cirebon juga meninggalkan beberapa bangunan masjid. Adanya bangunan-bangunan masjid kuno tersebut tentu mampu menjadi bukti bahwa syiar Islam pada masa itu memang telah berkembang dengan sangat pesat. Adapun beberapa masjid peninggalan kerajaan Cirebon tersebut antara lain
  1. Masjid Sang Cipta Rasa ialah masjid yang dibangun Wali Songo pada tahun 1498 di kompleks keraton Kasepuhan. Berdasarkan kisah rakyat, masjid ini didirikan hanya dalam waktu 1 malam saja. Subuh keesokan harinya masjid yang sampai kini masih berdiri kokoh tersebut telah digunakan untuk sholat berjamaah.
  2. Masjid Jami Pakuncen berada di Tegal Arum, Kab. Tegal - Jawa Tengah. Masjid ini didirikan oleh Sunan Amangkurat I sebagai tempat penting untuk keperluan syiar Islam di tanah Cirebon pada masa itu.

3. Peninggalan Berupa Makam

Pemakaman muslim kuno yang kini masih terpelihara juga merupakan peninggalan yang tidak mampu dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam di Kesultanan Cirebon. Di antara makam tersebut misalnya makam Sunan Gunung Jati dan makam para penguasa kerajaan lainnya.

Peninggalan Kerajaan Cirebon Keraton
Kompleks pemakaman peninggalan Kerajaan Cirebon terletak di Keraton Cirebon, 6 km dari sentra Kota Cirebon, Jawa Barat. Di hari Jumat, kompleks pemakaman ini sangat ramai alasannya ialah banyak orang dari banyak sekali kawasan datang untuk berziarah dan mengalap berkah. Selain makam Sunan Gunung Jati, dikompleks ini juga terdapat makam Fatahillah, panglima perang Batavia. Adapun di dalam kompleks tersebut, ada banyak benda-benda bersejarah ibarat perkakas, piring, dan logam-logam kuno yang berasal dari masa kekuasaan Dinasti Ming, China.

4. Peninggalan Berupa Benda Pusaka

Kesultanan Cirebon juga meninggalkan beberapa benda pusaka dan yang paling terkenal ialah pusaka yang berwujud kereta, misalnya kereta Singa barong atau kereta Paksi Naga Liman. Kereta ini ialah kereta kuno yang berasal dari tahun 1549 buatan cucu Sunan Gunung Jati yang berjulukan Panembahan Losari.

Peninggalan Kerajaan Cirebon Keraton

Kereta ini memiliki bentuk yang sangat unik dan penuh filosofi. Pada kereta ini terukir pahatan belalai gajah, kepala naga, dan buroq. Gajah melambangkan persahabatan Cirebon dan India, naga melambangkan persahabatan Cirebon dan China, sedangkan buroq melambangkan persahabatan Cirebon dan Mesir. Perlu diketahui bahwa keunikan kereta ini juga terletak pada bab sayapnya yang dapat otomatos mengepak saat kereta tengah berjalan.

Nah, demikianlah beberapa peninggalan Kerajaan Cirebon mulai dari yang berupa keraton, masjid, makam, sampai benda-benda pusaka. Semoga artikel ini cukup lengkap dan mampu menambah wawasan sejarah kita semua. Terimakasih.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Isi Prasasti Telaga Batu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya + Gambar

Prasasti telaga batu yaitu salah satu prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1935 di Kelurahan Tiga Ilir, Kecamatan Ilir Timur 2, Palembang Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar bak Telaga Biru (Saboking). Prasasti yang ketika ini disimpan di Museum Gajah ini menyimpan beberapa fakta sejarah perihal Kerajaan Sriwijaya di masa silam. Apa saja fakta dan isi prasasti Telaga Batu peninggalan kerajaan Sriwijaya ini? Cari tahu jawabannya dengan menyimak artikel berikut!

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu
Prasasti Telaga Batu dibuat dari materi kerikil andesit dengan hiasan 7 kepala kobra di bab atasnya dan pahatan berbentuk pancuran di bab bawahnya. Tulisan dalam prasasti Telaga Batu terdiri atas 28 baris bertuliskan aksara palawa dan berbahasa Melayu Kuno. Dari bentuk fisik dan jenis bahasa yang digunakan, diperkirakan oleh JG. De Casparis –seorang arkeolog berkebangsaan Belanda, prasasti ini yaitu prasasti yang dibuat pada pertengahan kala ke 7 Masehi. Berikut ini yaitu gambar dari prasasti tersebut!

Isi Prasasti Telaga Batu

Secara fisik, prasasti Telaga kerikil memiliki ukuran lebar 148 cm dan tinggi sekitar 188 cm. Isinya yaitu perihal peringatan atau bahaya bagi siapa saja, baik pembesar kerajaan maupun rakyat jelata yang tidak patuh terhadap perintah sang Raja. Berikut ini yaitu
Isi: Om! sidham titam hamwan, wari awai kandra, kayet nipaihumpa, an amuha ulu lawan tandrum, luah makamatai tandrun, luah an hakairu, luah kayet nihumpa, unai umentem bhakti ni ulun haraki, unai tunai kau wanak mamu rajaputra, prostara, bhupati, senopati, nayaka, pratyaya, haji pratyaya, dandanayaka, murddhaka tuha an watak wuruh, addhyaksi nijawarna, vasikarana, kumaramatya, cathabhata, adhikarana, karmma, kayastha, sthapaka, puhawan, waniyaga, pratisara, da kau marsi haji, hulun hajo, wanak mamu uram niwunuh sumpah dari mammam, kau kadaci kau tida bhakti, dyaku niwunuh, kau sumpah tuwi mulam kadasi, kau drohaka, wanun luwi yam marwuddhi.

Terjemahan: Om! Semoga berhasil. Kamu semua berapapun banyaknya, putra raja, bupati, panglima, tokoh lokal terkemuka, bangsawan, bawahan raja, hakim, pemimpin para buruh, pengawas pekerja rendah, hebat senjata, kumaramatya, tentara, pejabat pengelola, karyawan toko, pengrajin, nakhoda, pedagang, pelayan raja dan budak raja. Kamu semua akan mati alasannya kutukan ini, kalau kau tak setia pada ku, kalau kau berlaku sebagai penghianat, berkomplot dengan orang-orang dalam kejahatan.
Dari isi dan terjemahan dari pahatan yang tertulis di prasasti telaga kerikil di atas, Coedes menyimpulkan bahwa letak penemuan prasasti ini yaitu lokasi yang berdekatan dengan ibukota Kerajaan Sriwijaya di masa silam. Prasasti ini sengaja dibuat di lokasi tersebut biar selalu dapat dilihat oleh para pembesar kerajaan yang bermukim di sekitarnya.

Selain itu, prasasti telaga kerikil tersebut juga pertanda bahwa kerajaan Sriwijaya murni merupakan kerajaan yang berlandaskan ajaran Budha. Salam pembuka dalam isi prasasti tersebut identik dengan salam yang selalu diucapkan umat Budha.

Prasasti Telaga Batu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Telaga Batu Saat Ini

Prasasti Telaga Batu ketika ini telah dipindahkan dari daerah asal penemuannya ke Museum Nasional (Museum Gajah) dengan nomor inventaris D.155. Jika Anda ingin melihat bagaimana bentuk asli dari prasasti ini, silakan datang ke museum Nasional yang alamatnya berada di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat.

Nah, demikianlah sekilas uraian mengenai Prasasti Telaga Batu lengkap dengan gambar dan isinya. Semoga Anda semakin mencintai sejarah budaya bangsa Indonesia. Salam.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Isi Prasasti Ciaruteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara + Gambar

Prasasti Ciaruteun yakni salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di sekitar tepi sungai Ciaruteun, Kabupaten Bogor – Jawa Barat. Prasasti yang berbentuk bongkahan watu besar ini diperkirakan terbawa oleh arus sungai beberapa meter dari letak awalnya, sehingga dikala ditemukan prasasti ini dalam keadaan terbalik.

Prasasti Ciaruteun memiliki nama lain yaitu Prasasti Ciampea. Prasasti ini berisi beberapa pesan ihwal kepemerintahan kerajaan Tarumanegara di masa silam. Apa saja pesan dan isi prasasti Ciaruteun itu? Ketahui jawabannya berikut ini.

Prasasti Ciaruteun

Sebelum membahas ihwal sejarah dan isinya, alangkah lebih baik terlebih dahulu Anda memperhatikan gambar Prasasti Ciaruteun di bawah ini!

Prasasti Ciaruteun

Sejarah Ditemukan

Prasasti Ciaruteun pertama kali ditemukan pada tahun 1863 oleh pemimpin Bataaviash Genootscap van Kunsten en Wetenscappen (saat ini Museum Nasional) di tepi sungai Ciaruteun, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor - Jawa Barat. Letak penemuan prasasti ini secara geografis terletak pada koordinat 6°31’23,6” LS dan 106°41’28,2” BT.

Saat ditemukan, prasasti ini berada dalam kondisi terbalik sehingga letak pahatan tulisannya menghadap ke tanah. Karena hal inilah maka orang-orang yang tinggal di sekitar sungai Ciaruteun menganggap bahwa prasasti tersebut yakni watu biasa.

Gambar Prasasti Ciaruteun

Terbaliknya posisi prasasti Ciaruteun diperkirakan terjadi akhir terjangan banjir. Karena arus sungai yang deras, prasasti kemudian hanyut beberapa meter dari posisinya yang semula.

Pada tahun 1903, prasasti Ciaruteun kemudian dikembalikan ke posisinya yang semula. Kemudian, dengan pertimbangan keamanan dan fasilitas perawatan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti ini ke Museum Nasional di Jakarta.

Isi Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk seloka dengan beraksarakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam prasasti ini juga terdapat sepasang pahatan telapak kaki, gambar umbi, sulur-suluran (pilin), dan laba-laba. Irama atau metrum Anustubh dalam seloka prasasti ini terdiri atas empat baris. dan dengan pahatan yang isi tulisannya adalah:

Vikkrantasyavanipat eh
Srimatah purnnavarmmanah
Tarumanagarendrasya
Visnoriva padadvayam

Setelah diterjemahkan, goresan pena dalam prasasti Ciaruteun memiliki arti sebagai berikut:
“Inilah tanda sepasang telapak kaki menyerupai kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Prasasti Ciaruteun Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Dari terjemahan isi prasasti Ciaruteun di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa hal, di antaranya:
  1. Cap telapak kaki Purnnawarmman yang terdapat pada prasasti melambangkan bahwa kawasan tempat ditemukannya prasasti tersebut termasuk kawasan kekuasaan Tarumanegara.
  2. Kemudian isi goresan pena prasasti menegaskan bahwa raja Purnawarman yakni raja yang baik yang dapat mengayomi dan melindungi rakyatnya menyerupai halnya yang kuasa Wisnu. Diperkirakan dikala pemerintahan Purnawarman yakni masa kejayaan dari Kerajaan Tarumanegara.
  3. Irama (anustubh) yang digunakan dalam prasasti mempunyai kesamaan dengan prasasti Yupa yang ditemukan di Kutai. Hal ini menegaskan bahwa kebudayaan yang berkembang di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara memiliki kesamaan.
  4. Nama Purnawarman yang diakhiri dengan kata “Warman” sama menyerupai raja-raja Kerajaan Kutai, yakni Mulawarman dan Asmawarman. Hal ini semakin mempertegas bahwa budaya Hindu di tanah Jawa, khususnya di Jawa Barat dan budaya Hindu di Kalimantan pada masa silam yakni dua budaya yang sama.

Nah, demikianlah pemaparan mengenai isi prasasti Ciaruteun lengkap dengan gambar dan sejarah penemuannya. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sejarah kita semua terkait pengaruh budaya Hindu Budha di Indonesia pada masa silam.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

20 Peninggalan Kerajaan Kediri dalam Bentuk Candi, Prasasti, Kitab, dan Arca

Kerajaan Kediri yakni salah satu kerajaan Hindu yang terletak di Jawa Timur. Kerajaan ini memiliki nama lain, yaitu Kadiri atau Panjalu. Sejak berdiri pada tahun 1042 dan runtuh pada tahun 1222, kerajaan yang berpusat di kota Daha ini meninggalkan beberapa benda bersejarah, baik berupa candi, prasasti, arca, sampai kitab-kitab sastra. Apa saja peninggalan Kerajaan Kediri tersebut? Bagaimana sejarah penemuannya? Untuk tahu jawabannya, silakan simak pemaparan berikut!

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri telah meninggalkan beberapa bangunan candi. Candi-candi tersebut memiliki corak khas budaya Hindu. Berikut ini yakni beberapa candi peninggalan Kerajaan Kediri tersebut:

Peninggalan Kerajaan Kediri

1. Candi Penataran

Salah satu candi peninggalan sejarah kerajaan Kediri yang sampai dikala ini dapat kita temukan yakni Penataran. Candi ini letaknya berada di lereng Gunung Kelud bab Barat Daya, tepatnya di utara Kota Blitar. Candi penataran yakni candi termegah di Jawa Timur. Dari prasasti yang ditemukan di lokasi penggalian candi, diketahui bahwa candi ini dibangun dikala masa kepemerintahan Raja Srengga sampai kepemerintahan Raja Wikramawardhana atau sekitar era ke 12 sampai 14 Masehi.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri Candi Penataran, Candi Gurah, dan Candi Tondowongso

2. Candi Tondowongso

Candi peninggalan Kerajaan Kediri selanjutnya yakni Candi Tondowongso. Candi ditemukan di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kediri-Jawa Timur pada tahun 2007. Berdasarkan gaya dan bentuk arca yang ditemukan di sekitar candi, diketahui bahwa candi ini dibangun pada era ke 9, sempurna pada masa awal perpindahan sentra politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kendati dianggap sebagai penemuan sejarah terbesar di era modern, kondisi candi Tondowongso dan kompleks di sekitarnya sampai kini masih memprihatinkan dan belum mendapat perhatian dari pemerintah.

3. Candi Gurah

Selanjutnya yakni Candi Gurah. Candi ini ditemukan di Kec. Gurah, Kediri Jawa Timur.
Candi peninggalan Kediri selanjutnya ditemukan di Kecamatan Kediri, Jawa Timur pada tahun 1957. Letak candi Gurah berada persis 2 km dari situs candi Tondowongso. Dari pondasinya, diketahui bahwa candi ini berukuran 9 meter x 9 meter.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri Candi Mirigambar

4. Candi Mirigambar

Candi Mirigambar yakni candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di lapangan desa Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Tulungagung – Jawa Timur. Candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1214 – 1310 Saka. Strukturnya terbuat dari kerikil bata merah, menyerupai halnya kebanyakan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Seorang petinggi desa Mirigambar pada 1965 melindungi candi ini dari agresi ikonoklastik sehingga sampai kini candi ini masih dapat kita temukan.
Aksi Ikonklastik yakni agresi penghancuran ikon-ikon budaya yang dianggap sebagai berhala.

5. Candi Tuban

Berbeda dengan nasib Candi Mirigambar, candi Tuban kini telah luluh lantah dan hanya tersisa pondasinya saja. Candi yang berjarak 500 meter dari letak Candi Mirigambar ini dikala ini telah ditimbun kembali oleh tanah alasannya yakni sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dibangun.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

Selain candi, kerajaan Kediri juga meninggalkan beberapa prasasti sebagai catatan dan jejak sejarah atau peringatan terhadap suatu kejadian. Beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Kediri tersebut antara lain:

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri Prasasti Kamulan, Prasasti Galunggung, Prasasti Jaring, Prasasti Panumbangan, dan Prasasti Talan

1. Prasasti Kamulan

Prasasti Kamulan ditemukan di Desa Kamulan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Prasasti ini dibuat pada tahun 1116 Saka (1194 M) sempurna pada masa kepemimpinan Raja Kertajaya. Isi prasasti ini yakni keterangan berdirinya Kabupaten Trenggalek, yakni pada Rabu Kliwon, tanggal 31 Agustus 1194.

2. Prasasti Galunggung

Prasasti Galunggung ditemukan di Rejotangan, Tulung Agung. Prasasti yang memiliki dimensi 160x80x75 cm ini bertuliskan huruf Jawa Kuno dengan total 20 baris, kendati begitu huruf yang terpahat dalam prasasti ini sudah sangat sulit dibaca. Hanya bab tahunnya saja yang masih dapat diketahui, yaitu bertuliskan tahun 1123 Saka.

3. Prasasti Jaring

Prasasti Jaring yakni prasasti yang dibuat pada tanggal 19 November 1181. Isi dari prasasti ini yakni keterangan wacana pengabulan keinginan penduduk dukuh Jaring melalui senapatinya, Sarwajala. Keinginan tersebut berupa suatu impian yang belum diwujudkan raja sebelumnya. Dalam prasasti Jaring, diketahui bahwa para pejabat kediri memilki gelar atau sebutan menggunakan nama hewan, menyerupai Lembu Agra, Menjangan Puguh, dan Macan Kuning.

4. Prasasti Panumbangan

Prasasti Panumbang yakni prasasti peninggalan kerajaan Kediri yang dibuat oleh 2 Agustus 1120. Prasasti ini dikeluarkan oleh Maharaja Bameswara. Isinya yakni berupa penetapan desa Panumbang menjadi sima swatantra (desa bebas pajak).

5. Prasasti Talan

Prasasti Talan ditemukan di Desa Gurit, Blitar – Jawa Timur. Prasasti yang dibuat pada tahun
1058 Saka (1136 Masehi) ini, berisi wacana penetapan masuknya Desa Talan ke dalam wilayah Panumbang yang bebas pajak. Prasasti ini dilengkapi dengan pahatan Garudhamukalanca, pahatan berbentuk badan insan bersayap dengan kepala Garuda.

Selain prasasti-prasasti tersebut, kerajaan Kediri juga meninggalkan beberapa prasasti lainnya. Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri tersebut di antaranya yaitu:
  1. Prasasti Sirah Keting berisi wacana perlindungan tanah dari Raja Jayawarsa pada rakyat desa Sirah Keting alasannya yakni jasa-jasanya terhadap kerajaan Kediri.
  2. Prasasti Kertosono berisi wacana duduk perkara keagamaan. Prasasti ini berasal dari masa kepemerintahan Raja Kameshwara.
  3. Prasasti Ngantang berisi wacana perlindungan tanah bebas pajak oleh Jayabaya pada Desa Ngantang alasannya yakni jasa-jasa rakyat Desa yang telah mengabdi pada Kerajaan Kediri.
  4. Prasasti Padelegan isinya mengenang bakti penduduk Desa Padelegan pada Raja Kameshwara.
  5. Prasasti Ceker berisi wacana anugerah dari raja pada penduduk Desa Ceker yang telah mengabdi demi kemajuan Kediri.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

Kediri juga memiliki banyak sastrawan handal. Para sastrawan ini telah membuat beberapa kitab sastra, diantaranya yakni kitab Kakawin Bharatayudha, Kitab Kresnayana, Kitab Sumarasantaka, Gatotkacasraya, dan kitab Smaradhana.

1. Kitab Kakawin Bharatayudha

Kitab Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Isinya menceritakan kisah perjuangan raja Jenggala, Jayabaya yang berhasil menaklukkan Panjalu. Kisah perjuangan raja Jayabaya ini dianalogikan dengan kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa dalam kisah Mahabrata.

2. Kitab Kresnayana

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri
Kitab Kresnayana dikarang oleh Empu Triguna. Isinya menceritakan riwayat hidup Kresna, seorang anak yang memiliki kekuatan sangat luar biasa dan namun suka menolong orang lain. Kresna sangat disukai orang-orang diceritakan secara runut sampai ia menikah dengan Dewi Rukmin.

3. Kitab Sumarasantaka

Kitab Sumarasantaka dikarang oleh Empu Monaguna. Isinya menceritakan kisah kutukan Harini, seorang bidadari khayangan yang telah melaksanakan kesalahan. Harini dikutuk menjadi manusia. Ia tinggal di bumi untuk beberapa lama sampai masa kutukannya selesai.

4. Kitab Gatotkacasraya

Ktab Gatotkacasraya dikarang oleh Empu Panuluh. Isinya menceritakan kisah kepahlawanan Gatotkaca yang berhasil mempersatukan putra Arjuna, yakni Abimayu dengan Siti Sundhari.

5. Kitab Smaradhana

Kitab smaradhana dikarang oleh Empu Dharmaja. Isinya menceritakan kisah Dewa Kama dan Dewi Ratih, sepasang suami istri yang hilang secara misterius alasannya yakni terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.

Nah, demikianlah beberapa peninggalan kerajaan Kediri baik dalam bentuk Candi, Prasasti, Kitab maupun Arca. Semoga daftar peninggalan dari mahsyurnya kerajaan Kediri di masa silam ini dapat membantu menambah wawasan sejarah Anda. Daftar ini akan terus diupdate seiring dengan ditemukannya informasi terbaru.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

8 Peninggalan Kerajaan Banten, Gambar dan Keterangannya

PENINGGALAN Kerajaan Banten ialah salah satu Kerajaan bercorak Islam yang berdiri pada tahun 1526 di ujung Barat pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh putra Sunan Gunung Jati, yakni Sultan Maulana Hasanudin setelah melaksanakan penaklukan atas wilayah di sekitar Selat Sunda. Selama 3 periode berdiri, kerajaan Banten mencapai kejayaan yang luar biasa sebelum kesannya Belanda datang dan menciptakan perang saudara sampai menyebabkan keruntuhan kerajaan ini. Selama 3 periode berkuasa itu pula, Kerajaan Banten meninggalkan beberapa peninggalan sejarah. Berikut ini akan kami jelaskan peninggalan Kerajaan Banten tersebut, lengkap dengan gambar dan keterangannya.

Peninggalan Kerajaan Banten

Sebagai kerajaan yang pernah menjadi poros kelautan pelayaran di Nusantara, Kerajaan Banten bahwasanya telah meninggalkan beberapa bangunan bersejarah. Akan tetapi, alasannya ialah konflik yang terjadi antara kerajaan dengan pemerintah kolonial atau konflik antar pembesar kerajaan di masa silam, banyak di antara peninggalan Kerajaan Banten tersebut yang hancur dan dihancurkan.

Masjid Agung Banten

1. Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten ialah salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Banten yang sampai kini masih berdiri kokoh. Masjid ini terletak di Desa Banten Lama, 10 km utara Kota Serang. Dibangun pada tahun 1652 sempurna di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, putera pertama Sunan Gunung Jati, masjid ini memiliki beberapa keunikan corak. Keunikan corak masjid Agung Banten di antaranya menaranya berbentuk seolah-olah mercusuar, atapnya ibarat atap dari pagoda khas gaya arsitektur China, ada serambi di kiri kanan bangunan, serta kompleks pemakaman sultan Banten beserta keluarganya di sekitar kompleks masjid.

2. Istana Keraton Kaibon Banten

Peninggalan Kerajaan Banten selanjutnya ialah bangunan istana Kaibon. Istana ini dulunya ialah daerah tinggal ibunda Sultan Syaifudin, yakni Bunda Ratu Aisyah. Akan tetapi, ketika ini bangunan istana tersebut sudah hancur dan hanya dapat dilihat reruntuhannya saja. Pada ketika kerajaan Banten bentrok dengan pemerintah kolonial Belanda pada 1832, Daendels –Gubernur Hindia Belanda, meruntuhkan bangunan bersejarah ini.

3. Istana Keraton Surosowan Banten

Selain istana Keraton Kaibon, Kerajaan Banten di masa silam juga meninggalkan bangunan istana lainnya, yaitu istana Keraton Surosawan. Istana ini ialah daerah tinggal dari Sultan Banten dan menjadi kantor sentra kepemerintahan. Nasib istana Keraton Surosawan juga sama dengan Keraton Banten, hancur luluh. Saat ini tinggal kepingan-kepingan reruntuhannya saja yang dapat kita lihat bersama bangunan kolam pemandiaan para putri.

peninggalan Kerajaan Banten

4. Benteng Speelwijk

Sebagai poros utama kelautan nusantara di masa silam, kerajaan Banten juga meninggalkan bangunan berupa benteng dan mercusuar. Benteng dengan tembok setinggi 3 meter ini berjulukan Benteng Speelwijk. Dibangun tahun 1585, benteng peninggalan Kerajaan Banten ini berfungsi selain sebagai pertahanan kerajaan dari serangan laut juga berfungsi untuk mengawasi aktifitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Di dalam benteng ini terdapat beberapa meriam kuni dan sebuah terowongan yang menghubungkan antara benteng dan keraton Surosowan. [BACA JUGA : Peninggalan Kerajaan Kediri]

5. Danau Tasikardi

Di sekirar istana Kaibon, kita juga dapat menemukan sebuah danau buatan. Danau tersebut berjulukan Tasikardi. Danau ini dibuat ketika masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, yakni antara tahun 1570 sd 1580. Dahulunya, dasar danau seluas 5 hektar ini dilapisi dengan ubin dan watu bata. Kendati begitu, sekarang luas danau tersebut telah menyusut dan lapisan watu bata di dasarnya telah tertimbuh tanah sedimen yang terbawa arus sungai. Danau Tasikardi pada masa silam berfungsi sebagai sumber utama pasokan air bagi keluarga kerajaan yang tinggal di istana Kaibon serta sebagai saluran irigasi untuk persawahan di sekitar Banten.

6. Vihara Avalokitesvara

Meski Kesultanan Banten berazaskan atas Islam, toleransi dari penduduk dan pemimpinnya dalam beragama terbilang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah yang berupa bangunan Vihara, daerah ibadah umat Budha. Vihara peninggalan Kerajaan Banten tersebut berjulukan Avalokitesvara. Hingga kini, kita masih dapat melihatnya. Yang unik, di dinding vihara ini kita juga dapat melihat relief dongeng legenda siluman ular putih yang melegenda itu.

peninggalan Kerajaan Banten

7. Meriam Ki Amuk

Di dalam bangunan benteng Speelwijk terdapat beberapa senjata berupa meriam. Di antara meriam-meriam tersebut yang terbesar dan terunik dinamai meriam Ki Amuk. Dinamakan demikian alasannya ialah meriam ini terbilang memiliki daya ledak tinggi dan tembakan yang jauh. Konon, meriam ini merupakan hasil rampasan dari pemerintah Kolonial Belanda ketika masa peperangan.

8. Peninggalan Lainnya

Selain peninggalan-peninggalan di atas, Kerajaan Banten juga memiliki beberapa peninggalan lainnya yang berupa aksesoris. Di antaranya ialah mahkota binokasih, keris panunggul naga, dan keris naga sasra. Keberaadaan benda-benda bersejarah tersebut sampai kini masih terawat rapi di Museum Kota Banten.

Nah, demikianlah beberapa benda peninggalan Kerajaan Banten yang menjadi bukti kekuasaan atas tanah Banten di masa silam. Semoga dapat membantu peran sekolah Anda. Salam!
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

15 Peninggalan Kerajaan Kalingga dalam Bentuk Candi dan Prasasti

Kerajaan Kalingga atau Ho-ling merupakan sebuah kerajaan Hindu yang sempat berdiri pada era ke 6 Masehi di Jawa Tengah. Meski letak persisnya belum diketahui, beberapa jago memperkirakan kerajaan ini berdiri di sekitar tempat antara perbatasan Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Sedikitnya sumber sejarah dan peninggalan Kerajaan Kalingga menjadi pembatas sulitnya para jago mengungkap keadaan kerajaan ini di masa silam. Pada artikel kali ini kita akan membahas wacana sumber-sumber sejarah tersebut beserta peninggalan berupa candi, prasasti, atau arca dari peradaban kerajaan Kalingga yang masih tersisa sampai ketika ini.

Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sumber sejarah Kerajaan Kalingga sangatlah terbatas. Rujukan utama yang digunakan para jago mengungkapkan keadaan kerajaan ini yakni catatan seorang pengembara dari Dinasti Tang berjulukan I-Tsing. Selain catatan-catatan I-Tsing, beberapa peninggalan ibarat candi, arca, dan prasasti juga menjadi patokan dalam mengungkap eksistensi dan keadaan kerajaan ini di masa silam.

 Peninggalan Kerajaan Kalingga

1. Prasasti Tukmas

Peninggalan Kerajaan Kalingga yang pertama yakni prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Grabak, Magelang – Jawa Tengah. Prasasti Tukmas bertuliskan aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta lengkap dengan pahatan beberapa gambar.

Prasasti Tukmas berisi wacana kabar adanya sungai di lereng Gunung Merapi yang airnya jernih, ibarat mirip anutan sungai Gangga di India. Adapun gambar-gambar yang termuat di dalamnya yakni gambar trisula, kapak, kendi, cakra, kelasangka, dan bunga teratai. Gambar-gambar tersebut menjadi bukti bahwa kerajaan Kalingga memiliki kekerabatan dekat dengan kebudayaan Hindu dari India.

Letak penemuan prasasti Tukmas yang cukup jauh dari perkiraan ibukota kerajaan juga menandakan bahwa cakupan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Kalingga cukup luas.

2. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojometro yakni prasasti peninggalan Kerajaan Kalingga yang titemukan di wilayah Kabupaten Batang. Dinamakan Sojometro alasannya prasasti ini ditemukan sempurna di dusun yang berjulukan Sojomerto.

Prasasti Sojomerto bertuliskan aksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Dengan wujudnya ini, para jago memperkirakan bahwa prasasti Sojomerto dibuat pada era ke 7 Masehi.

Isi prasasti Sojomerto menceritakan wacana kondisi keluarga kerajaan Kalinga. Salah satu wacana pendiri kerajaan yang berjulukan Dapunta Sailendra. Dari nama tersebut, diperkirakan pendiri Kalingga berasal dari garis keturunan Dinasti Sailendra, penguasa Kerajaan Mataram Kuno di masa sebelumnya.

3. Prasasti Upit

Prasasti Upit yakni sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Ngawen, Kec. Ngawen – Kab. Klaten. Isi prasasti ini menceritakan wacana adanya sebuah kampung, berjulukan kampung upit yang menjadi tempat perdikan (bebas pajak) alasannya anugerah dari ratu Shima. Saat ini, prasasti upit disimpan di Museum Purbakala, Jawa Tengah di Prambanan, Klaten.

Selain meninggalkan beberapa prasasti, Kerajaan Kalingga juga meninggalkan bangunan Candi. Ada 2 candi peninggalan Kerajaan Kalingga, yaitu candi Angin dan candi Bubrah. Baca Juga  : Peninggalan Kerajaan Kediri .

4. Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kec. Keling, Jepara – Jawa Tengah. Dinamakan candi angin yakni alasannya candi ini berdiri di atas tempat yang cukup tinggi, kendati terpaan angin sangat kencang dari waktu ke waktu, candi ini tidak rubuh dan justru tetap kokoh.

 Peninggalan Kerajaan Kalingga

Dari analisa karbon, diperkirakan candi angin dibangun pada masa sebelum pembangunan Candi Borobudur. Tidak terdapatnya ornamen-ornamen Hindu Budha membuat candi ini diperkirakan dibangun sebelum kebudayaan Hindu Budha berbaur dengan kebudayaan asli masyarakat Jawa.

 Peninggalan Kerajaan Kalingga

5. Candi Bubrah

Candi Bubrah ditemukan di lokasi sekitar candi angin. Dinamakan candi Bubrah alasannya pada ketika ditemukan, kondisi candi ini sudah luluh lantah (Jawa : Bubrah). Dari arsitektur dan gaya bangunannnya, candi ini diperkirakan dibuat pada sekitar era ke 9 Masehi dengan bercorak kebudayaan Budha. Candi yang dibuat dari materi kerikil andesit ini berukuran 12 meter x 12 meter. Saat ditemukan reruntuhan yang tersisa tingginya hanya sekitar 2 meter saja.

Demikian sekilas pemaparan kami mengenai beberapa peninggalan Kerajaan Kalingga, baik yang berupa candi maupun yang berupa prasasti. Meski tidak menguak banyak hal wacana sejarah Kerajaan Kalingga, peninggalan-peninggalan tersebut sampai kini masih dirawat dan terus dipelihara sebagai warisan budaya untuk generasi Indonesia yang selanjutnya.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com